6 Jun 2012

Bayi (dalam) Tabung ?

Author: gamma.kosala | Filed under: Etika Profesi dan Bisnis

Bismillahirrahmanirrahim.

Bayi tabung mungkin merupakan istilah yang masih belum kerap didengar oleh masyarakat luas. Lalu apakah bayi tabung itu ? bayi dalam tabung ? bukan, bayi tabung adalah bayi hasil proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh wanita, istilah lainnya adalah  in vitro vertilization (IVF). masih bingung ? kalo bahasa gampangnya sih bayi tabung itu dihasilkan dari sel sperma yang diambil lalu disuntikkan ke sel telur. proses penyuntikannya diluar rahim, lalu setelah disuntikkan embrio akan dititpkan ke dalam rahim seorang wanita. proses ini biasanya digunakan oleh pasangan suami isteri yang mengalami kesulitan mendapatkan keturunan. karena dengan proses ini kemungkinan untuk mendapatkan bayi cukup besar.

perdebatan yang timbul dengan ditemukannya teknik ini cukup beragam. perlu diketahui dengan adanya teknik ini siapa saja bisa mempunyai anak hanya dengn menyediakan sel sperma dan sel ovum lalu rahim seorang wanita sebagai tempat pertumbuhan embrio. sel sperma dan sel ovum juga bisa berasal dari pasangan suami isteri. bahkan rahim yang digunakan pun tidak harus rahim wanita pendonor sel telur. disinilah yang menkadi perdebatan dalam bidang sosial maupun agama.

Dalam bidang agama sendiri, MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam fatwanya menyatakan bahwa bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami-istri yang sah hukumnya mubah (boleh). Sebab, ini termasuk ikhtiar yang berdasarkan kaidah-kaidah agama. Namun, para ulama melarang penggunaan teknologi bayi tabung dari pasangan suami-istri yang dititipkan di rahim perempuan lain. para ulama menegaskan, di kemudian hari hal itu akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan warisan.Para ulama MUI dalam fatwanya juga memutuskan, bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya haram. “Sebab, hal ini akan menimbulkan masalah yang pelik, baik dalam kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam hal kewarisan,” tulis fatwa itu. Lalu bagaimana dengan proses bayi tabung yang sperma dan ovumnya tak berasal dari pasangan suami-istri yang sah? MUI dalam fatwanya secara tegas menyatakan hal tersebut hukumnya haram. Alasannya, statusnya sama dengan hubungan kelamin antarlawan jenis di luar penikahan yang sah alias zina.

pemerintah sendiri melalui peraturan hukum perdata mengatur tentang teknik bayi tabung di Indonesia.

Pasal  127 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.  Pasal tersebut mengatur tentang upaya kehamilan yang dilakukan di luar cara alamiah, yakni hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami isteri yang sah dengan ketentuan:

  1. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami isteri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim isteri dari mana ovum berasal;
  2. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu;
  3. Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu

Dengan demikian status anak tersebut adalah anak sah sehingga ia memiliki hubungan waris dan keperdataan sebagaimana yang berlaku pada anak kandung.

Namun Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim seorang isteri ketika ia telah bercerai dari suaminya, maka status anak yang terlahir sah jika anak tersebut lahir sebelum 300 hari sejak perceraian terjadi. Bila anak terlahir setelah masa 300 hari sejak perceraian, status anak tidak sah sehingga ia tidak memiliki hubungan keperdataan apapun dengan mantan suami dari sang ibu (Pasal 255 KUH Perdata).

Undang-undang bayi tabung berdasarkan hukum perdata dapat ditinjau dari beberapa kondisi berikut ini:

  1. Jika sperma berasal dari pendonor dan setelah terjadi embrio diimplantasikan ke dalam rahim isteri, maka anak yang terlahir statusnya sah dan memiliki hubungan waris serta keperdataan selama suami menerimanya (Pasal 250 KUH Perdata).
  2. Jika embrio diimplantasikan ke rahim wanita lain yang telah bersuami, maka anak yang terlahir statusnya sah dari pasangan penghamil, dan bukan dari pasangan yang memiliki benih (Pasal 42 UU No. 1/1974 dan Pasal 250 KUH Perdata).
  3. Jika sperma dan sel telur berasal dari orang yang tidak terikat perkawinan tetapi embrionya diimplantasikan ke rahim wanita yang terikat perkawinan, anak yang terlahir statusnya sah bagi pasutri tersebut.

saya sendiri sebagai orang yang kurang paham hukum merasakan kejanggalan disini. pada pasal pasal  127 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2009 dikatakan kehamilan yang dilakukan di luar cara alamiah, yakni hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami isteri yang sah dengan ketentuan hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami isteri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim isteri dari mana ovum berasal. sedangkan pada pasal 250 KUH Perdata, Pasal 42 UU No. 1/1974 dan Pasal 250 KUH Perdata dimungkinkan sperma berasal dari pendonor dan rahim yang dititipi embrio tidak selalu dari wanita pendonor sel ovum.

saya sendiri lebih setuju dengan pendapat MUI dimana bayi tabung dibolehkan asalkan berasal dari sel sperma dan sel ovum dari pasutri dan ditanamkan pada rahim sang istri. hal ini kan menjamin status dari anak itu sendiri serta tidak bertentangan dari hukum agama

Comments are closed.